KUALITAS dan TIDAK BERKUALITAS

Suatu ketika saya membeli sebuah laptop merk A. Dari dealer resmi merk A yang membuka gerai di sebuah mall yang mengkhususkan pada gerai  komputer dan kelengkapannya di Malang. Hal ini sebenarnya bukan pengalam pertama saya membeli laptop, karena ini pembelian ke-3 setelah selama ini hanya membeli dalam kondisi sekend alias menerima saja kondisi yang sudah ada.

Kami sempat kebingungan dengan specifikasi yang sangat bermacam. Akhirnya pilihan jatuh pada merek A dengan identitas Core I3  2.3mhz DDR3  320Gb  Camera Cristal Win7 Home Basic14" dan sebaginya. Intinya punya specifikasi lebih up date 1 step ke depan mengantipasi produk obsolent yang sulit mencari sparepart dan kecocokan software dan perangkat pelengkap lainya. Harga cocok dan gaaransi merek A setahun

Entah karena laptop ini merupakan defect product ataupun karena type pilihan saya ini pada merek A merupakan gagal product, kemudian menjadi sering umum menyebutkan merk A dengan kondisi "sensi" begitu orang awam bilang. Saya adalah termasuk konsumen yang terkena produk "sensi' tadi. genap setahun lebih sedikit HD kondisi badsector. Herannya dealer resmi dari merek A ternyata tidak mampu mendeteksi gejala umum badsector, sehingga tindakan yang di ambil malah memeperparah bad sector yang ada. 

Ketika di repair pada orang yang ahli, kemudian saya baru di tunjukkan, bahwa barang saya adalah black market. Wha, saya menolak karena saya merasa membeli di dealer resmi dan ada stiker yang nempel. Dia bilang stiker yang di maksud adalah stiker QC pass dari pabrik. Bukan guarantee dari toko. Rupanya tukang servis ini sangat detail memperhatikan masalah kualitas mungkin karena sering menemukan hal serupa.
Yang di maksud barang resmi adalah stiker QC pass dari pabrik biasanya hologram dan cukup sulit terlepas dari body, atau minmal menimbulkan bekas.

Saya paham hal ini seperti juga pengetahuan mengenai Hape. Herannya yang menjual ke saya adalah dealer resmi merk A yang membuka gerai di mall besar di kota Malang tempat saya tinggal. Bagaimana bisa mereka mendapatkan. Ternyata issue yang bredar di antara para pemain penjual komputer, bahwa hal yang demikian bisa terjadi karena:
1) Barang reject / KW down grade product yang terlepas dari sistem kontrol pengendalian kualitas. atau mungkin malah kebijakan pabrik. Bukankah merk A dan kebanyakan membuka license di Taiwan
2) Barang bahan baku yang terlepas dari kontrol pabrik. Karena hilang/ tercuri. kemudian di pasang secara kanibal oleh pembuatnya. Dijual sama dengan produk utama, Margin laba banyak.

Siapa yang di rugikan konsumen ??
Terlampir  dalam link adalah UU Konsumen full, dan sebagian kutipan mengenai hal ini.

PASAL 3
Perlindungan konsumen bertujuan :
a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri;


PASAL 4
Hak konsumen adalah :
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;




PASAL 7
Kewajiban pelaku usaha adalah :

b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;

d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;





PASAL 8
(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.



PASAL 9
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, memproduksikan, mengiklankan suatu barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah­olah:
a. barang tersebut telah memenuhi dan/atau memiliki potongan harga, harga khusus, standar mutu tertentu, gaya atau mode tertentu, karakteristik tertentu, sejarah atau guna tertentu;
b. barang tersebut dalam keadaan baik dan/atau baru;
c. barang dan/atau jasa tersebut telah mendapatkan dan/atau memiliki sponsor, persetujuan, perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri­ciri kerja atau aksesori tertentu;
d. barang dan/atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan yang mempunyai sponsor, persetujuan atau afiliasi;
e. barang dan/atau jasa tersebut tersedia;
f. barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;
g. barang tersebut merupakan kelengkapan dari barang tertentu;
h. barang tersebut berasal dari daerah tertentu;
i. secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain;
j. menggunakan kata­kata yang berlebihan, seperti aman, tidak berbahaya, tidak mengandung risiko atau efek sampingan tampak keterangan yang lengkap;
k. menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.

(2) Barang dan/atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk
diperdagangkan.
(3) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dilarang melanjutkan
penawaran, promosi, dan pengiklanan barang dan/atau jasa tersebut.




PASAL 11
Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang, dilarang mengelabui/ menyesatkan konsumen dengan;
a. menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah­olah telah memenuhi standar mutu tertentu;
b. menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah­olah tidak mengandung cacat tersembunyi;
c. tidak berniat untuk menjual barang yang ditawarkan melainkan dengan maksud untuk menjual barang lain;
d. tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu dan/atau jumlah yang cukup dengan maksud menjual barang yang lain;
e. tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup dengan maksud menjual jasa yang lain;
f. menaikkan harga atau tarif barang dan/atau jasa sebelum melakukan obral



PASAL 16
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa melalui pesanan dilarang untuk:
a. tidak menepati pesanan dan/atau kesepakatan waktu penyelesaian sesuai dengan yang dijanjikan;
b. tidak menepati janji atas suatu pelayanan dan/atau prestasi.




Banyak pasal di atas (bentuk underline dan italic) yang telanggar untuk kasus saya.
Sehubungan dengan kualitas, produk down grade ; informasi barang terutama kualitas ; license ; dsb

Hikmahnya :
1) Dealer resmi tidak menjamin untuk tidak akan melanggar hak anda dalam pembelian, terutama kualitas; status barang (DG atau utama; license. sama seperti kita beli di pasar penjual BM (black Market)
2. Dealer resmi tidak selalu pandai - pintar service umum yang tidak menggenakan bendera resmi. Jangan terlalu percaya pada dealer resmi.



referensi silahkan klick

EARNING MANAGEMENT DAN PROKSINYA

A.  Melihat EARNING MANAGEMENT dari ACCRUAL

Accrual sendiri secara teori merupakan perbedaan kas yang ada dan profit pada periode yang di maksud. 

  1. Artinya di mungkinkan ada profit namun tidak ada kas. Disebabkan karena kas digunakan putaran operasional perusahaan yang belum bisa di catatkan sebagai pendapatan pada periode tersebut. Dana  digunakan masih dalam bentuk bahan baku, atau dalam proses produksi (produk dalam proses) atau dalam persediaan barang akhir yang belum terkirim.
  2. Artinya di mungkinkan profit tidak ada namun kas ada. Artinya operasional perusahaan mulai terhenti atau tidak beraktifitas, dimana bahan baku sudah di proses produksi semua, tidak ada barang dalam proses bahkan persediaan produk jadi sudah terjual semua. Dana terkumpul pada kas karena tidak melakukan aktfitas apapun.
Hal ini terjadi karena pencatatan akuntansi menggunakan accrual basis atau mempertemukan secara histori biaya dan pendapatannya. Accrual yang di maksud di sini adalah NON DISKRESIONAL ACCRUAL karenaterjadi akibat kegiatan operasional perusahaan.

Namun ada juga DISKRESIONAL ACCRUAL yang berhubungan dengan Earning Management yaitu, kebijakan para decision maker kebijakan akuntansi suatu bisnis melakukan denganmotivasi tertentu. Misal 'kebijakan penundaan akumulasi penyusutan' yang berubah dengan motivasi bonus ; pajak ; politik ; CEO ; kontrak dan sebagainya. Permainan kebijakan accrual ini yang merupakan proksi Earning Manajemen





B. Melihat EARNING MANAGEMENT dari DEFFERED TAX EXPENSE

Deffered Tax Expense adalah fenomena yang terjadi akibat perbedaan dasar hukum pencatatan akuntansi. Pencatatan Akuntansi sendiri umumnya mengikuti dasar GAAP yang di Indonesia di turunkan menjadi PSAK dan ETAP untuk dasar bagi UKM. Sedangkan pencatatan akuntansi juga mengikuti kaedah dasar hukum perpajakan yang berlaku di negara tersebut.
Perbedaan pelaksanaan dua kaedah dasar hukum ini di bagi menjadi :
  1. Perbedaan PERMANENT. Artinya yang terus menerus menjadi perbedaan. Di PSAK diijinkan sementara hukum pajak tidak memperkenankan. Hal ini seperti masalah deductable dan undeductable. Sampai kapanpun pastri akan terjadi. Kecuali kemudian terjadi perubahan hukum pajak. Misal diperbolehkannya bebas fasilitas pemukiman bagi pegawai di daerah terpencil; atau diperbolehkannya biaya pelatihan / education sebagai dukungan terhadap program pemerintah untuk pendidikan. 
  2. Perbedaan TEMPORARY. Artinya pebedaan yang pada akhirnya bisa menjadi sama, hanya masalah periode saja. Misal penyusutan aktiva tetap. Atau kerugian pihutang. 
Terjadi Earning Management apabila di mungkinkan terjadi kesengajaan mempermainkan perbedaan temporary, dengan motif pajak ; motif insentif ; motif smoothing profit dan sebagainya, yang seharusnya tidak terjadi.

TRIAL PRODUK BIKIN RUGI YA


Punya mbah dari Jepang. Namanya Ihara San. Dulu pernah menjabat sebagai direktur Pakarti Riken. PMA Jepang kerjasama dengan PMDN. Suplier spareparts produk mitsubishi. Di Indonesia, Mitsubishi termasuk kendaraan dominan untuk angkutan umum dan barang. Marketing so easy.......

Mbah Ihara selalu bilang 'trial produk ya .... bikin rugi ya.....' dengan logat Jepang yang cukup kental. Awalnya negatif thingking dengan ucapan si mbah. Tapi kemudian seiring waktu benar yang mbah bilang. Hanya saja bukan trial produk baru alias pesanan model baru  atau job order produk, melainkan pada biaya pengembangan dan penelitian atau biaya R & D  dalam arti yang sebenarnya.

Bisnis dalam produk Industri (bukan produk konsumsi) dari sisi kebutuhan manusia secara general adalah kebutuhan sekunder atau bahkan tertier. Artinya suply dan demand dalam elastisitas sempurna. Sehingga pergeseran harga sangat mempengaruhi demand. Dampaknya bahwa penentuan harga tidak bisa dengan mudah seperti barng konsumsi yang selalu di kejar orang. Sehingga margin yang di mainkan sebagai penambah harga pokok produksi untuk menjadi harga jual adalah kecil. Namun di lain pihak komoditas industri sparepart memerlukan modal yang tidak murah, karena tuntutan kualitas yang presisi dalam industri ototmotif. Lihat saja standartisasi di dunia otomotif menggunakan TS sebagai level ISO rumit.

Seharusnya dalam penentuan biaya pengembangan dan penelitian menjadi hal yang sangat utama. Mengingat margin yang diperoleh kecil. Lain lagi dengan industri batu bara, yang mempunyai karakteristik industri  yang unik, karena kelangkaan bahan baku, dan proses perolehan produk, menyebabkan menjadi barang special. Artinya bargaining penentuan policy harga  menjadi mudah. Sehingga margin juga besar. Sudah barang tentu biaya pengembangan dan penelitian bukan hal sulit. Lha iya wong 'balik modal' nya gampang.

Di pihak lain mengenai penerapan kebijaksanaan cost harus in detail. Demi mengetahui cost of product di masing - masing proses. Bukan hal yng gampang jika frame sistem cost  center tidak di rencanakan dengan baik oleh bagian perancang sistem. Biasanya oleh bagian MIS (manajemen informasi sytem). Tanpa di dukung keseluruhan karyawan dengan kesadaran yang cukup tinggi untuk bekerjasama.
Hal ini adalah hal mayor yang menjadi kebutuhan perusahaan ini. Karena tanpa hasil rancangan yang baik oleh MIS untuk cost of centre, para pembuat keputusan dalam policy harga tidak mampu menentuan harga dan tidak bisa berjualan dunk.....


Jadi mbah.... pesan cucumu ini, nggak hanya trial produk. Tapi 'banget' berorientasi pada perencanaan maufacture sangat memperhatikan biaya pengambangan dan penelitian yang cukup mahal dan tidak diperhatikan oleh perintis bisnis ini. Ini belum ada mbah.... Fatal mbah.....

Kedua, para cucumu ini tidak mampu menyusun sistem informasi manajemen yang baik untuk terciptanya cost of profit yang mendekatkan pada accounting based cost (ABC). Tidak bisa menentukan harga penjualan ; tidak bisa melihat kinerja laporan keuangan ; tidak bisa memutuskan apa - apa. wadow mbah....




Di luar kesalahan  manajemen di atas, dari perencanaan - memgorganisir - pelaksanaan - pengontrolan , ada hal lain yang masuk wilayah manajemen sumber daya manusia.
Ini sebagai catatan, bahwa SDM sebagai sumber terpenting dari semua usaha, di sini ada kelemahan untuk capable of leadership yang kurang. Baik pemilik maupun orang  orang yang duduk di adalamnya. Its not the right man on the right job. Kemudian bahwa budaya secara menyeluruh dari karyawan yang kurang effort, menjadikan suatu usaha tidak efisien. 

SubhanAllah.....


Berikut ini ada jurnal yang mendukung pemikiran di atas

http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/aku/article/viewFile/15660/15652

MEMINTA MARGIN HARGA PEMBELIAN

Saya sebenarnya bingung harus menjelaskan bagaimana kepada seorang karyawati di tempat saya bekerja, ketika dia tidak memahami benar atau salah dari kasus ini. Kasus ini adalah dimana posisi karyawan perusahaan yang meminta margin harga pembelian dari suplier.


Dalam rumus riil fakta, misal PT.XYZ adalah industri yang memerlukan bahan baku X untuk proses produksinya. Melalui bagian purchasing / prorecurement PT. XYZ melakukan pembelian rutin untuk bahan baku X. Seiring waktu bagian purchasing semakin pandai meloby untuk mendapat harga rendah, dan memang sudah kewajibannya untuk mencari harga rendah. Purchasing mendapat bahan baku X dari suplier / sub kon A dengan harga IDR500.000 /unit sedang di suplier B hanya memberikan IDR75.000 /unit. Barang relatif sama. Karena user sendiri kurang memperhatikan kualitas barang (atau kurang paham kualitas) sehingga menyerahkan sepenuhnya pada purchasing. Oleh purchasing harga di ambil dari suplier B, namun dibuat seolah - olah harga IDR175.000 /unit. Untuk menghindari perbedaan harga signifikan, purchasing menghindarkan pertemuan antara suplier B dengan perusahaan PT.XYZ. Sekaligus pembayaran melalui purchasing baik di bayar tunai maupun transfer.Ketika tertangkap tangan perbuatan purchasing, masih bisa berdalih bahwa harga bahan baku X masih lebih murah di bandingkan dengan suplier A IDR500.000, meski dari suplier B harga IDR175.000 (IDR75.000 di bayar ke suplierB dan IDR100.000 masuk kantong).

Kembali ke karyawan yang tidak paham atau sekedar pura - pura atau memang tidak diberikan kejernihan berpikir oleh Allah. Dia mempertanyakan, toh harga memang lebih murah di bandingkan suplier A. Rupanya karyawan ini hanya berpikir laba dan rugi sesuai bidang akuntansi yang dipelajari banyak oleh kaum finance & accounting. Naif.

Di contoh kode etik berikut ini adalah etika yang di tanamkan di perusahaan yang sudah mapan dan mematok nya dalam garis kebijaksanaan perusahaan.

1) Dari Perusahaan Pupuk Kaltim (PDF)
halaman 12 - 13 tentang perilaku individu, no 1 tentang integritas dan no. 4 tentang penghindaran benturan kepentingan.

2) Dari perusahaan pefindo (PDF)
Halaman 4 no. 4.3 mengenai Independensi analisis dan karyawan perusahaan

3) Dari website KPK 
mengenai pernyataan etika, pada dasar kebijakan etika bisnis butir E. Kebijakan Pemberian dan Hiburan :

C. Kebijakan Pemberian dan Hiburan
Kebijakan perusahaan mengurangi praktek-praktek Pemberian kepada pegawai kami yang berasal dari rekan bisnis, suplier dan pelanggan. Kebijakan Perusahaan melayani kepentingan bisnis perusahaan dan mengembangkan konstruksi hubungan dengan organisasi dan individu dalam melakukan bisnis atau melakukan bisnis dengan perusahaan.



Intinya bahwa karyawan yang masih meminta margin harga untuk pembelian atau bahkan yang bersangkutan menjadi suplier dari perusahaan dianggap sebagai individu yang tidak integritas dan tidak independensi. Hal ini adalah termasuk tidak etis (pelanggaran etika). Ini dari nilai etika saja.

Kembali pada contoh cerita di atas, dari nilai IDR yang masuk logika hedonis (para pemikir materi saja). Jika perusahaan mendapatkan barang dengan harga IDR75.000 saja tanpa di pungut IDR175.000 (karena IDR100.000 masuk kantong atau terdistorsi), maka perusahaan dapat berhemat cost production IDR100.000 /unit bahan baku X.


Hal ini benar - benar terjadi di sekeliling kita. Kadang perusahaan menganggap loyalitas karyawan dengan value "setia seiring waktu" atau senioritas (lebih lama lebih loyal) kepada perusahaan, bukan karyawan yang benar - benar menunjukkan profesional nya, baik kecakapan pekerjaan dan kontribusi terhadap perusahaan tapi kejujuran diri sebagai hamba Allah.

Wallahuallam bishowab.





  

Perbedaan ERROR dengan RESIDUAL

reff : http://ineddeni.wordpress.com/category/regresi-linier-dan-korelasi/





Seringkali ditemui di lapangan, bahwa para pengguna statistika kurang paham mengenai beda antara istilah residual dengan error. Kasus ini sering ditemui dalam konsep regresi. Walaupun kedua istilah ini di dalam bahasa Indonesia memiliki terjemahan yang sama, yaitu galat, namun demikian, keduanya sebenarnya memiliki perbedaan.

Secara matematis:

Residual adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data sampel.

Error adalah selisih antara nilai duga (predicted value) dengan nilai pengamatan yang sebenarnya apabila data yang digunakan adalah data populasi.

Persamaan keduanya : merupakan selisih antara nilai duga (predicted value) dengan pengamatan sebenarnya.

Perbedaan keduanya: residual dari data sampel, error dari data populasi.



Predicted value adalah nilai duga yang dihasilkan dari model regresi yang diperoleh. Misal model regresi yang diperoleh: y = 2+3x. Apabila kita memasukkan nilai x = 1, maka predicted value dalam kasus ini  adalah y = 2+3*1 = 5.










REGRESI LINIER

tautan PDF
http://ineddeni.files.wordpress.com/2008/07/regresi_linier.pdf 



tautan  link
http://firmanharjuanjaya.com/seo/1606/regresi-linear.xhtml 




dalam ringkasnya
Regresi linier digunakan untuk membentuk model hubungan antara variabel bebas dengan variabel respon. Dari namanya saja udah kelihatan, bahwa model hubungan yang dimaksud adalah model hubungan linier. Contoh: Ingin dicari model regresi antara “biaya iklan” dengan “penjualan”. Variabel bebas/prediktor adalah biaya iklan dan variabel respon adalah penjualan. Jadi ingin dicari bagaimanakah model hubungan antara 2 variabel tsb, sehingga bisa diketahui berapakah nilai penjualan yang akan diperoleh bila perusahaan mengeluarkan biaya iklan sebesar X rupiah.









reff : http://www.konsultanstatistik.com/2009/03/regresi-linear.html


Regresi linear adalah alat statistik yang dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu atau beberapa variabel terhadap satu buah variabel. Variabel yang mempengaruhi sering disebut variabel bebas, variabel independen atau variabel penjelas. Variabel yang dipengaruhi sering disebut dengan variabel terikat atau variabel dependen. Regresi linear hanya dapat digunakan pada skala interval dan ratio
Secara umum regresi linear terdiri dari dua, yaitu regresi linear sederhana yaitu dengan satu buah variabel bebas dan satu buah variabel terikat; dan regresi linear berganda dengan beberapa variabel bebas dan satu buah variabel terikat. Analisis regresi linear merupakan metode statistik yang paling jamak dipergunakan dalam penelitian-penelitian sosial, terutama penelitian ekonomi. Program komputer yang paling banyak digunakan adalah SPSS (Statistical Package For Service Solutions) .


Regresi Linear Sederhana
Analisis regresi linear sederhana dipergunakan untuk mengetahui pengaruh antara satu buah variabel bebas terhadap satu buah variabel terikat. Persamaan umumnya adalah:
Y = a + b X.
Dengan Y adalah variabel terikat dan X adalah variabel bebas. Koefisien a adalah konstanta (intercept) yang merupakan titik potong antara garis regresi dengan sumbu Y pada koordinat kartesius.


Langkah penghitungan analisis regresi dengan menggunakan program SPSS adalah: Analyse --> regression --> linear. Pada jendela yang ada, klik variabel terikat lalu klik tanda panah pada kota dependent. Maka variabel tersebut akan masuk ke kotak sebagai variabel dependen. Lakukan dengan cara yang sama untuk variabel bebas (independent). Lalu klik OK dan akan muncul output SPSS.


Interpretasi Output
Koefisien determinasi
Koefisien determinasi mencerminkan seberapa besar kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan varians variabel terikatnya. Mempunyai nilai antara 0 – 1 di mana nilai yang mendekati 1 berarti semakin tinggi kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan varians variabel terikatnya.
Nilai t hitung dan signifikansi
Nilai t hitung > t tabel berarti ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat, atau bisa juga dengan signifikansi di bawah 0,05 untuk penelitian sosial, dan untuk penelitian bursa kadang-kadang digunakan toleransi sampai dengan 0,10.
Persamaan regresi
Sebagai ilustrasi variabel bebas: Biaya promosi dan variabel terikat: Profitabilitas (dalam juta rupiah) dan hasil analisisnya Y = 1,2 + 0,55 X. Berarti interpretasinya:
Jika besarnya biaya promosi meningkat sebesar 1 juta rupiah, maka profitabilitas meningkat sebesar 0,55 juta rupiah.
Jika biaya promosi bernilai nol, maka profitabilitas akan bernilai 1,2 juta rupiah.
Interpretasi terhadap nilai intercept (dalam contoh ini 1,2 juta) harus hati-hati dan sesuai dengan rancangan penelitian. Jika penelitian menggunakan angket dengan skala likert antara 1 sampai 5, maka interpretasi di atas tidak boleh dilakukan karena variabel X tidak mungkin bernilai nol.


Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda sebenarnya sama dengan analisis regresi linear sederhana, hanya variabel bebasnya lebih dari satu buah. Persamaan umumnya adalah:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + .... + bn Xn.
Dengan Y adalah variabel bebas, dan X adalah variabel-variabel bebas, a adalah konstanta (intersept) dan b adalah koefisien regresi pada masing-masing variabel bebas.


Interpretasi terhadap persamaan juga relatif sama, sebagai ilustrasi, pengaruh antara motivasi (X1), kompensasi (X2) dan kepemimpinan (X3) terhadap kepuasan kerja (Y) menghasilkan persamaan sebagai berikut:
Y = 0,235 + 0,21 X1 + 0,32 X2 + 0,12 X3
Jika variabel motivasi meningkat dengan asumsi variabel kompensasi dan kepemimpinan tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat
Jika variabel kompensasi meningkat, dengan asumsi variabel motivasi dan kepemimpinan tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat.
Jika variabel kepemimpinan meningkat, dengan asumsi variabel motivasi dan kompensasi tetap, maka kepuasan kerja juga akan meningkat.
Interpretasi terhadap konstanta (0,235) juga harus dilakukan secara hati-hati. Jika pengukuran variabel dengan menggunakan skala Likert antara 1 sampai dengan 5 maka tidak boleh diinterpretasikan bahwa jika variabel motivasi, kompensasi dan kepemimpinan bernilai nol, sebagai ketiga variabel tersebut tidak mungkin bernilai nol karena Skala Likert terendah yang digunakan adalah 1.


Analisis regresi linear berganda memerlukan pengujian secara serempak dengan menggunakan F hitung. Signifikansi ditentukan dengan membandingkan F hitung dengan F tabel atau melihat signifikansi pada output SPSS. Dalam beberapa kasus dapat terjadi bahwa secara simultan (serempak) beberapa variabel mempunyai pengaruh yang signifikan, tetapi secara parsial tidak. Sebagai ilustrasi: seorang penjahat takut terhadap polisi yang membawa pistol (diasumsikan polisis dan pistol secara serempak membuat takut penjahat). Akan tetapi secara parsial, pistol tidak membuat takut seorang penjahat. Contoh lain: air panas, kopi dan gula menimbulkan kenikmatan, tetapi secara parsial, kopi saja belum tentu menimbulkan kenikmatan.


Penggunaan metode analisis regresi linear berganda memerlukan uji asumsi klasik yang secara statistik harus dipenuhi. Asumsi klasik yang sering digunakan adalah asumsi normalitas, multikolinearitas, autokorelasi, heteroskedastisitas dan asumsi linearitas..


Langkah-langkah yang lazim dipergunakan dalam analisis regresi linear berganda adalah 1) koefisien determinasi; 2) Uji F dan 3 ) uji t. Persamaan regresi sebaiknya dilakukan di akhir analisis karena interpretasi terhadap persamaan regresi akan lebih akurat jika telah diketahui signifikansinya. Koefisien determinasi sebaiknya menggunakan Adjusted R Square dan jika bernilai negatif maka uji F dan uji t tidak dapat dilakukan.


Bentuk-bentuk regresi yang juga sering digunakan dalam penelitian adalah regresi logistik atau regresi ordinal.




Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul
Dalam uji regresi sederhana apakah perlu menginterpretasikan nilai F hitung?
Uji F adalah uji kelayakan model (goodness of fit) yang harus dilakukan dalam analisis regresi linear. Untuk analisis regresi linear sederhana Uji F boleh dipergunakan atau tidak, karena uji F akan sama hasilnya dengan uji t.
Kapan menggunakan uji satu arah dan kapan menggunakan uji dua arah?
Penentuan arah pengujian adalah berdasarkan masalah penelitian, tujuan penelitian dan perumusan hipotesis. Jika hipotesis sudah menentukan arahnya, maka sebaiknya digunakan uji satu arah, tetapi jika hipotesis belum menentukan arah, maka sebaiknya menggunakan uji dua arah. Penentuan arah pada hipotesis berdasarkan tinjauan literatur. Contoh hipotesis dua arah: Terdapat pengaruh antara kepuasan terhadap kinerja. Contoh hipotesis satu arah: Terdapat pengaruh positif antara kepuasan terhadap kinerja. Nilai t tabel juga berbeda antara satu arah dan dua arah. Jika menggunakan signifikansi, maka signifikansi hasil output dibagi dua terlebih dahulu, baru dibandingkan dengan 5%.
Apa bedanya korelasi dengan regresi?
Korelasi adalah hubungan dan regresi adalah pengaruh. Korelasi bisa berlaku bolak-balik, sebagai contoh A berhubungan dengan B demikian juga B berhubungan dengan A. Untuk regresi tidak bisa dibalik, artinya A berpengaruh terhadap B, tetapi tidak boleh dikatakan B berpengaruh terhadap A. Dalam kehidupan sehari-hari kedua istilah itu (hubungan dan pengaruh) sering dipergunakan secara rancu, tetapi dalam ilmu statistik sangat berbeda. A berhubungan dengan B belum tentu A berpengaruh terhadap B. Tetapi jika A berpengaruh terhadap B maka pasti A juga berhubungan dengan B. (Dalam analisis lanjut sebenarnya juga ada pengaruh yang bolak-balik yang disebut dengan recursive, yang tidak dapat dianalisis dengan analisis regresi tetapi menggunakan (structural equation modelling).



UJI ASUMSI KLASIK

reff :http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/uji-asumsi-klasik-regresi-berganda.html


Pengujian asumsi klasik diperlukan untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan benar-benar bebas dari adanya gejala heteroskedastisitas, gejala multikolinearitas, dan gejala autokorelasi. Model regresi akan dapat dijadikan alat estimasi yang tidak bias jika telah memenuhi persyaratan BLUE (best linear unbiased estimator) yakni tidak terdapat heteroskedastistas, tidak terdapat multikolinearitas, dan tidak terdapat autokorelasi ( Sudrajat 1988 : 164). Jika terdapat heteroskedastisitas, maka varian tidak konstan sehingga dapat menyebabkan biasnya standar error. Jika terdapat multikolinearitas, maka akan sulit untuk mengisolasi pengaruh-pengaruh individual dari variabel, sehingga tingkat signifikansi koefisien regresi menjadi rendah. Dengan adanya autokorelasi mengakibatkan penaksir masih tetap bias dan masih tetap konsisten hanya saja menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, uji asumsi klasik perlu dilakukan. Pengujian-pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut : 

1.Uji Asumsi Klasik Multikolinieritas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser, yang dilakukan dengan meregresikan nilai absolut residual yang diperoleh dari model regresi sebagai variabel dependen terhadap semua variabel independen dalam model regresi. Apabila nilai koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas dalam model regresi ini tidak signifikan secara statistik, maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas (Sumodiningrat. 2001 : 271).

2.Uji Asumsi Klasik Heteroskedasitisitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Dalam model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Uji Multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dari hasil analisis dengan menggunakan SPSS. Apabila nilai tolerance value lebih tinggi daripada 0,10 atau VIF lebih kecil daripada 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas (Santoso. 2002 : 206). 

3.Uji Asumsi Klasik Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (D-W), dengan tingkat kepercayaan  = 5%. Apabila D-W terletak antara -2 sampai +2 maka tidak ada autokorelasi (Santoso. 2002 : 219) 
 







referensi lain :
terkunci
http://firmanharjuanjaya.com/seo/1610/uji-asumsi-klasik.xhtml